Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murahini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

7 Hari Tanpa Instagram

[TL;DR] Saya terlalu banyak membuang waktu untuk Instagram. Kemudian saya tobat. Tulisan ini terlalu panjang jadi kalau kalian males baca, pada dasarnya itu hahahaha.


Yang kenal saya niscaya tahu saya anaknya selalu berorientasi angka. Yang paling dipelototin sih page views blog ya, yang mengantarkan saya menerima tambahan 1juta views hanya dalam 3 bulan, dengan total 3 juta views selama 3 tahun saja. Hanya angka, tapi bikin senang alasannya tulisan-tulisan saya ternyata banyak yang membaca. :)

Karena semenjak dulu, social media yaitu daerah main yang sangat menyenangkan. Tempat utama untuk mencari informasi. Saya tidak lepas social media semenjak kala Friendster. Bahkan sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa saja, saya tetap eksis di Friendster pakai Opera Mini di Blackberry. Dulu, hampir 10 tahun yang lalu.

Tahun-tahun berikutnya dilalui dengan keluhan-keluhan wacana kuliah di Facebook. Tak usang pribadi pindah ke Twitter dan resmi jadi AnakTwitterTM yang selalu mengeluh lelah alasannya banyak alay di Facebook. Terus yang kurang penting bangsa Foursquare demi jadi mayor doang ya amponnn.

Beberapa tahun kemudian Instagram muncul exclusively di iOS dan saya pribadi punya lah! Namanya juga anak socmed! Tapi gres 3 bulan belakangan saya jadi peduli pada followers Instagram, meniatkan diri posting setiap hari, memperbaiki kualitas foto, menulis caption panjang dan bercerita alasannya sebelumnya bahkan saya jarang memberi caption. Keseriusan yang ditandai dengan followers naik 1000 lebih hanya dalam 1 bulan. Padahal sebelumnya hanya punya 2000 followers dalam 5 tahun. (sad lol)

Kemudian kalau sedang ada sponsored post maka saya jadi peduli pada reach Facebook, impression Twitter, dan banyak lagi. Ditambah saya yang rutin nge-blog, simpel social media jadi perpanjangan blog.

Lama-lama lelah.


Dan meski banyak orang yang menolak bermain di social media alasannya takut di-judge, saya sendiri sebetulnya tidak. Saya selalu menganggap internet yaitu daerah yang bebas bertanggungjawab. Saya punya argumen, kalian punya argumen.

Saya tidak pernah memaksakan pendapat saya pada siapapun, dan jangan pula memaksakan pendapat pada saya. Lagian masa semua orang harus sependapat sih, kan serem ya. Judge saya semau kalian dan saya tidak akan terganggu.

Yang kenal saya semenjak dulu di Twitter mungkin tau saya pernah sanggup aneka macam bahaya pembunuhan dalam beberapa hari di Twitter dan disuruh bunuh diri hanya alasannya saya menulis video klip sebuah boyband "biasa saja". BIASA SAJA BUKAN JELEK HHH.

Dan saya tidak kapok. Ternyata yang sanggup bikin saya berhenti main-main socmed yaitu diri saya sendiri. Saya sendiri kaget.

Dan ya, biang keroknya yaitu Instagram.

Saya senang melihat feed Instagram saya dan masih senang hingga sekarang. Saya senang menyusun foto semoga nyambung satu dengan lainnya, dengan sebelahnya, dengan atas dan bawahnya, menyerupai main game saja. Saya senang mengedit foto semoga terlihat “lebih Instagram”.

Iya alasannya foto Instagram itu punya karakteristik sendiri loh makanya muncul istilah Insta-worthy atau Instagram-able. Bukan semata alasannya dindingnya manis atau makanannya lucu, tapi komposisinya yang menciptakan sebuah foto menjadi sesuai dengan abjad Instagram.

Contoh paling sederhana, foto dramatis yang jadi headline koran belum tentu sedramatis itu ketika di-upload ke Instagram. Sebaliknya, foto flatlay dengan bunga mint dan aksesoris emas belum tentu cocok untuk halaman koran yang kebanyakan hitam putih. Di situ menyenangkannya Instagram.

Yang jadi persoalan bukan obsesi saya pada feed, tapi obsesi saya pada foto-foto di timeline! Sungguh membuang-buang waktu.

Naturally setiap beberapa menit saya membuka ponsel dan otomatis mencet icon Instagram kemudian scroll dan cek stories. Itu jadi habit dan berdasarkan saya bukan habit yang baik. Ya kecuali followers kalian 2juta orang dengan penghasilan dari Instagram ratusan juta rupiah dalam seminggu ya.

Scrolling Instagram menyita waktu sangat banyak dan saya tidak mau menyerupai itu. Saya tidak mau terobsesi. Saya tidak mau berdiri tidur dan yang pertama kali dilakukan yaitu cek notifikasi Instagram. Saya tidak mau lagi sedih alasannya jumlah followers berkurang.

Karena ya, Instagram yaitu Instagram. Saya kisah sebaik dan semenarik apapun maka akan hilang di timeline orang dalam beberapa hari. Sebagus apapun kontennya, tetap akan sulit dicari sesudah beberapa hari, archiving-nya tidak sebaik blog kan.

Sejak “serius” di Instagram saya juga jadi menyalakan notifikasi. Notifikasi komentar dan direct message. Awalnya saya senang alasannya wow banyak yang appreciate ya! Kesenangan yang hanya bertahan 3 bulan saja.

Lama-lama saya terganggu. Karena notifikasi menciptakan saya merasa ada urgensi membalas secepatnya dan sekali lagi, saya tidak mau menyerupai itu. Itu tidak baik, Instagram bukan prioritas. Berkali-kali saya sugestikan itu pada diri sendiri.

Saya juga terpaksa harus mengakui kalau saya (merasa jadi) oversharing, Padahal dulu saya yaitu barisan orang yang menolak mengamini bahwa saya berlebihan memakai social media. Saya beberapa kali bilang bahwa yang saya tulis di blog itu hanya kulitnya saja.

Orang bahkan tidak pernah tahu nama daycare Bebe, lokasi, atau bahkan nama lengkapnya. Ya di ketika orang menciptakan hashtag dengan nama lengkap bayi, saya bahkan hingga kini tidak pernah mempublikasikan nama lengkapnya. Dan waktu itu saya merasa berhak bilang saya tidak oversharing.

Tapi lama-lama toh saya berubah. Apalagi stories yang tidak menuntut foto bokeh dengan editing indah. Makan apa di-share, minum apa difoto dulu, sedang di mana juga difoto.

Mau apa sih sebenernya?

Saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri. Saya jadi merasa lebih bersahabat pada hidup orang tapi makin absurd pada hidup sendiri.



*

Di antara kalian niscaya kini ada yang berpikir oh itu tanda-tanda FOMO alias Fear of Missing Out. Bisa ya sanggup tidak tergantung definisi FOMO-nya.

Kalau kalian perhatikan, saya malah jarang ikut-ikutan komentar hal yang sedang ramai. Buat saya FOMO itu ketika ada sebuah topik ramai dibicarakan orang, maka kita ikut juga membicarakannya baik di status atau pun di komentar alasannya takut dianggap ketinggalan. Atau ketika ada sesuatu yang sedang hits, pribadi ingin ikut juga punya atau membeli.

Saya tidak. Saya belum pernah mengantri berjam-jam demi makanan, saya tidak pernah ikut komentar apapun yang sedang ramai di social media melalui status atau komentar, saya tidak pernah ikut memakai kata “kekinian” hanya alasannya kata itu sedang tren. Ya tau sendirilah anaknya suka sebel kalau mainstream, so does it count as FOMO?

Yang saya takutkan itu bahwasanya tidak ada! Saya hanya senang melihat-lihat foto orang, apalagi foto yang aesthetic dan dipikirin banget gitu bukan foto asal. Saya senang buka-buka profile orang dengan foto bagus dan mengira-ngira ia pakai filter apa dan editnya gimana.

Instagram jadi procrastinate yang sangat berlebihan.

Siang itu balasannya saya kesal alasannya menerima tangan saya sekali lagi membuka ponsel HP dengan tidak sadar dan scroll timeline Instagram. Saya tutup aplikasi itu dan saya delete. Tak pikir panjang saya juga delete Twitter dan Facebook.

Padahal saya jarang sekali buka Facebook. Dari urutan keseringan membuka dan memposting sesuatu, saya paling sering buka Instagram, kemudian Twitter, gres Facebook. Tapi ketiganya saya hapus alasannya saya takut kalau saya hanya menghapus Instagram, saya akan tetap terjebak di ponsel dan kembali scrolling. Membuka Facebook atau Twitter.

Saya menghapus Instagram sempurna di posisi post saya 999 posts, nggak sengajalaahh ngapain sengaja. Saya tidak pasang sasaran kapan akan kembali, pokoknya saya ingin mereka tidak ada di ponsel saya dulu untuk sementara waktu. Saya bilang JG bahwa saya capek ketergantungan social media dan ia cuma ketawa aja. Saya bilang saya ingin sendiri dulu.

Karena selain urusan terobsesi juga ada peer pressure. Tapi soal peer pressure ini kita ceritakan lain waktu ya. :’)

Jelas ada juga unsur peer pressure alasannya kalau nggak mah niscaya kita semua hanya selfie sekali kemudian pribadi upload kan? Ini nggak. Selfie dulu yang banyaaakkkk gres kemudian dipilih yang berdasarkan kita paling bagus. Yang idungnya keliatan agak mancung, yang pipi keliatan agak tirus, yang mata keliatan nggak sayu. Capek banget kaya gitu.

Dulu saya sama sekali nggak punya persoalan self esteem dan pede-pede aja sama diri sendiri. Sekarang? Perasaan sih masih pede, tapi kok ya pilih foto diri sendiri aja lama, edit sana sini dulu biar nggak keliatan gendut blablabla. Yang kaya gitu masih ngaku percaya diri? Tsk.



*

Siang itu dilalui dengan santai alasannya toh sambil kerja. Mau share apa? Foto kubikel?

Malamnya kami ke UGD alasannya Bebe diduga cacar dan di sini cobaan bahwasanya dimulai. Saya ingin sekali share! Sampai deg-degan alasannya saya ingin share Bebe yang sungguh lucu pakai konstum Gecko PJ Masks sambil diperiksa dokter. Saya ingin ambil video ia berpose Super Gecko Muscle di depan apotek rumah sakit. Dan banyak lagi. Tapi saya bertahan.

(Baca cerita cacar air Bebe di sini)

Saya foto dia, saya videokan, tapi tidak saya share di mana-mana. Mau share di mana? Aplikasinya pun tak punya. :)))

Dan itu terjadi hingga dua hari berikutnya, tangan saya masih otomatis meng-unlock ponsel dan pribadi memencet icon daerah sebelumnya Instagram berada. Icon itu bergeser menjadi Line yang sebelumnya ada di sebelah Instagram. Berulang kali dalam sehari saya melaksanakan itu, tidak sengaja memencet Line alasannya menyangka itu Instagram. I am THAT addicted.

Dalam dua hari itu aneka macam yang ingin saya share, apalagi kami cuti dan di Bandung. Saya nonton Kick Andy dengan bintang tamu Doni ‘Animal Defenders’ dan Davina ‘Garda Satwa’. RASANYA INGIN SEKALI NGE-TWEET! Tapi saya bertahan. Otak saya otomatis meramu kalimat apa yang seharusnya saya tweet. saya akan tulis ini, kemudian reply dengan ini sambil mention si anu, dan seterusnya. Gila ya udah lebih dari 48 jam dan saya masih nggak inget kalau saya tidak perlu share

Saya balasannya menciptakan dua jalan keluar:

📱 Pertama, bertahan tidak membuka ponsel sama sekali. Ketika otak saya otomatis meminta tangan membuka lock, ia pribadi mengirim sinyal bahwa yang dicari tidak ada. Maka saya simpan HP dan melaksanakan hal lain, bermain dengan Bebe, menulis, nonton, apapun. Saya menjauhkan diri dari HP and it’s too damn hard. Saya sangat tergantung pada HP saya dan segala isinya sehingga memaksa berpisah menjadi sangat membingungkan.

📱 Kedua, ketika saya tidak tahan lagi maka saya buka HP dan membuka aplikasi lain. Saya punya satu folder khusus aplikasi news publisher yang biasanya saya pakai kalau sedang mengikuti satu kasus. Baca kronologi informasi dari apps itu yummy banget loh btw.

Cuma ya saya nggak pernah juga out of the blue buka cuma mau cek headline. DAN ITU SAYA COBA LAKUKAN KEMARIN. But no fun HAHAHA. Akhirnya back to basic, saya buka BuzzFeed dan BoredPanda, hingga saya sadar kalau saya tidak butuh Facebook alasannya 90% yang saya lakukan di Facebook yaitu membaca BoredPanda dan BuzzFeed. LOL

Kondisi ini hanya tiga hari pertama, hari keempat saya mulai terbiasa tidak otomatis membuka HP tanpa sadar. Saya mulai melaksanakan hal lain, saya mulai sadar kalau tanpa Instagram setiap 5 menit, hidup saya akan baik-baik saja. Mengecek Instagram sehari hanya 2-3 kali sehari pun tidak akan tertinggal apapun alasannya Stories bertahan 24 jam kan.

*

Hidup tanpa Instagram, saya jadi teringat salah satu ekspat Australia di kantor yang tujuan hidupnya yaitu traveling. Dia kerja di kantor saya setahun, jajan di kantin karyawan yang murah meriah, ke mana-mana naik ojek, kost di belakang kantor yang kurang layak demi menabung untuk keliling Indonesia di tahun berikutnya. Surprise-nya bagi saya adalah, ia tidak punya akun social media dan tidak menulis blog wacana perjalanannya. Padahal usianya lebih muda dari saya.

Belum usang ini juga saya nyeletuk ke temen kantor yang juga terobsesi feed Instagram “eh temen gue keliling Eropa tapi foto Instagram-nya sedikit, sayang banget ya!”

Dia impulsif bilang “iya ya”. Terus merenung berdua lol.

THEY’RE MAKING MEMORIES, NOT CREATING INSTAGRAM FEED.

Kenapa kami yang gundah coba?

Contoh real yang nggak pernah saya lakukan tapi selalu saya maklumi: nggak apa-apa banget dateng ke suatu daerah demi Instagram, nggak apa-apa banget ngantri kuliner hits juga demi Stories, tidak persoalan jalan-jalan hunting foto untuk Instagram hingga bawa properti ke manamana. Nggak apa-apalah masa dihentikan atau dinyinyirin, ya tujuan orang kan beda-beda.

Saya merasa salah alasannya ketika ada orang (well, orangnya millennials) yang ternyata TIDAK pernah melaksanakan itu maka saya menganggap ia “wow kok bisa!”.

Kenapa saya maklum ketika orang mau ribet demi Instagram tapi saya tidak maklum ketika sebaliknya? Kenapa saya tidak mempertanyakan orang mengantri cheesecake dari subuh tapi saya mempertanyakan orang absurd yang keliling Indonesia tanpa meng-upload foto?

Saya tidak boleh menyerupai itu.



Di hari keempat saya sempat upload satu foto alasannya ada hal yang tidak sanggup saya ceritakan di sini (YAELAH), pada dasarnya saya kasih a quick update dan ternyata ada juga yang dm saya nanya saya ke mana. Saya hanya upload kemudian saya hapus lagi Instagramnya. Dalam kondisi terharu banget sih huhu masih dicariin orang sementara sayanya kabur tiba-tiba. T_____T (maap kadang emang halu)

Hari ketujuh saya sudah tidak otomatis membuka lock dan mencari icon Instagram. Dan tanpa sadar, pikiran saya lebih tenang alasannya saya tidak terlalu banyak berpikir untuk orang lain. Saya jadi punya waktu jauh lebih banyak untuk diri sendiri.

*

Sebelumnya saya tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya berjalan terus dan mencatatnya. Misal saya punya wangsit apa, biasanya pribadi diolah jadi draft berangasan blog, caption instagram atau minimal tweet. Jika panjang maka ditulis dulu di notes, jikalau pendek maka pribadi di-tweet.

Tapi kini alasannya pilihannya notes saja, pikiran selintas tetap jadi selintas, bukan lagi pribadi diolah untuk dikonsumsi publik. Dan itu bikin saya lebih damai. Bikin pikiran saya beristirahat.

Mbak Mira Sahid pernah bilang pada dasarnya "kamu kok kaya kebanyakan mikir?" Iya. Saya mikir terus. Saya nggak pernah berhenti mikir, makanya saya nggak pernah habis wangsit untuk blogpost, dan itu capek, capek sekali.

Sekarang saya sedikit mengerti apa yang terjadi dengan Michelle Phan, apa yang terjadi dengan Jesse dan Jeanna ‘BFvsGF’. Iya padahal masih jauhhhh, padahal saya masih sebutir kecil debu dibanding Michelle yang sebesar bulan (naon). Maka sebelum saya separah mereka dan benar-benar kabur dari kehidupan maya, saya lebih baik menguranginya dari sekarang.

Internet terlalu luas, jauh lebih luas dari yang sanggup kita genggam, jauh lebih dalam dari yang sanggup kita lihat. Itu yang menciptakan saya jadi gundah sebanyak apa yang bahwasanya sanggup saya pikirkan. Saya berpikir terlalu banyak.

*if that makes any sense*

Saya juga nggak akan sok nasihatin, “makanyaaa jangan gitu-gitu amat lah di socmed”. Ya mau gimana-gimana juga terserah orangnya lah. Ini yang bermasalah diri saya, nggak berarti orang akan punya persoalan yang sama juga. Saya punya persoalan dengan membagi waktu, nggak berarti orang lain akan punya merasakannya juga.

Begitulah.

Kaprikornus ambisius itu capek ya. Hahaha. Mana ambisiusnya di segala lini kehidupan pula. Udalah istirahat dulu ya. Saya terang tidak akan lagi tiap hari upload foto di Instagram, kalau blog sih sebisa mungkin masih tetap akan di-update ya meski tidak sesering dulu. Saya senang kok sharing di sini, dengan segala suka dukanya hahaha.

Kaprikornus itulah ceritanya kenapa saya menghilang seminggu hahaha. Pada kangen dong biar saya semangat lagi HAHAHAHA. Have a nice day!



-ast-

Detail ►

When It's Only Jg & Ast #134 - #140


Hai haiii! Kembali lagi dengan percakapan kami. Saya tuh maunya sering-sering posting ini tapi kadang suka lupa nyatet jikalau ada yang lucu jadi lewat aja. Semoga menghibur ya!

#134 Sampah

Di mobil, di tol menuju Bandung.

JG "Sayang saya mau buka jendela ya?"

Saya: "Ih ngapain!"

JG: "Aku mau buang sampah sembarangan"

Saya: "IH NGAPAIN IH!"

JG: "Sampahnya upil"


*

#135 Mangga atau manggis?

Di kantor, jam makan siang JG telepon.

Saya: "Kamu makan siang apa?"

JG: "Aku makan telor asin doang sama mangga, tapi saya nggak tebak sih mangganya"

Saya: "Ya emang nggak usah ditebak sih mangga mah, manggis keles itu mah"

JG: "HEHE"

-________-

*

#136 Tabung gas

Pas pulkam lebaran, tabung gas dicopot dong selangnya. Balik lagi ke Jakarta kompornya kok jadi nggak nyala. JG uprek-uprek di dapur sendiri lamaaaa banget hingga kesannya ia nyerah.

JG: "Sayang kompornya ga dapat nyala nih, kau sini dong"

Saya jalan ke dapur lalu kompornya pribadi nyala!

Saya: "Tsk, saya adab support ya"

JG: "Tabung gas aja takut sama kau apalagi aku"



*

#137 Ponari

Mbak Sary Melati punya dua Alaskan Malamute, gemes banget anjing gede gitu. JG sebagai pecinta anjing pribadi bahas terus.

JG: "Nama anjing mba Sary kaya ee loh, namanya poo"

Saya: "Ganti nama aja"

JG: "Iya sebenernya itu dari si Po Kungfu Panda sih"

Saya: "Kalau gitu ganti nama jadi ponari aja"

krik krik

JG: "Oke sayang mulai kini saya lebih baik membisu daripada merusak imajinasi ponari kau ok!"



*

#138 Warisan

Bebe punya mainan alat berat gitu, salah satunya ada truk sampah (dump truck). Bebe ingin tisu disobek kecil dibulet-bulet dijadiin sampah. PR banget kan ya, buletin-buletin tisu hingga banyak. Pas udah selesai malah diacak-acak! Bertaburanlah itu tisu di seluruh kasur.

Ibu: "Kok diacak-acak sih? Ah ibu nggak mau bikinin lagi ah buat Salo ah!"

JG: "Be tuh dengerin ibu, jikalau ibu murka kau nggak dapet warisan loh nanti"



*

#139 Oncom

Saya kebiasaan bilang oncom sebagai pengganti kata "kamp*et" atau "sialan" gitu konteks becanda ketawa-tawa ya. Kan lebih sopan aja lol. Suatu hari lagi ngobrol sama JG di mobil, dipikir Bebe nggak dengerin.

Saya; "Ah kau oncom"

Bebe motong: "Appa oncom ya ibu?"

Saya: "Iya, kau anak oncom"

Bebe: "Aku anak ibu bukan anak oncom"

HAHAHAHA

*

#140 Quote of the day


"Jika membisu itu emas maka pacar kau yang ambekan itu niscaya sudah kaya,"
-- @jago_gerlong, 30 tahun, karyawan swasta.

-ast-

Detail ►

Galau Preschool


Seminggu belakangan saya gundah alasannya preschool. *tarik nafas panjang*

Sebenernya saya sendiri nggak ngotot banget Bebe harus preschool sih alasannya sebagai ibu yang percaya diri, saya yakin ia nggak butuh-butuh amat preschool. Toh di daycare yang kini aja ada guru TK-nya kan sehari dua jam. Di rumah juga kami aktif baca buku, mewarnai, main ini itu yang selevel lah sama preschool hahaha.

Tapi kemudian kegelisahan itu muncul alasannya melihat progress bahasa Inggris Bebe yang udah keliatan banget dan akibatnya pengen preschool bahasa Inggris agar cepet lancar! Itu sebelum saya tau jika preschool bahasa Inggris itu ya ampun mahalnyaaa. Uang pangkalnya aja dapat Rp 10juta gitu. Langsung murung alasannya sebagai kelas menengah, pilihan sekolah itu terbatas banget ya. :|

Selain urusan bahasa Inggris, urgensi cari preschool jadi makin kerasa alasannya sahabatnya Bebe di daycare, mari kita sebut aja dengan K, hari ini hari terakhir di daycare alasannya pindah ke daycare yang ada preschool-nya. T______T Sejak beberapa hari kemudian saya dan ibunya K WhatsApp-an perihal ini dan saya mellow banget mikirin Bebe nggak ada temennya lagi di daycare yang sekarang.

Karena Bebe anaknya berteman banget, ia pilih-pilih sahabat semenjak kecil. Natural mungkin alasannya semenjak bayi di daycare kan, nggak mungkin temenan baik sama semua anak alasannya ya cocok-cocokan lah sama kaya kita orang dewasa. K ini umurnya emang udah 3 tahun 7 bulan, ibunya udah lebih gelisah lagi dari saya alasannya anaknya udah hampir 4 tahun tapi belum preschool juga.

(Baca: Pertanyaan Seputar Daycare)

Jangankan ditinggal selamanya (LEBAY BIAR), si K nggak masuk seminggu alasannya belum pulang dari kampung pas lebaran aja Bebe tiap sore cranky hhhh. Dan alasannya K keluar, otomatis Bebe jadi anak paling gede di daycare! Satu anak lagi yang seumuran Bebe banget kebetulan juga harus keluar bulan ini alasannya ayahnya pindah kiprah ke Jogja. Duh saya mellow banget deh beneran semingguan ini.

T________T

Agak nggak terima kenapa Bebe tau-tau udah 3 tahun aja hahaha. Kok tau-tau ibu udah harus cari preschool aja sih? Kalau yang ibunya di rumah atau pake mbak mungkin nggak segalau ini ya, alasannya ya tinggal cari preschool aja kan yang deket rumah. Ini kami harus cari preschool yang deket rumah serta deket kantor, ada daycare-nya dengan biaya bulanan yang masih masuk budget. Huhu.

Karena mau murung merenung berdiam diri doang mah tak akan berguna, kami pun mulai survey daycare plus preschool seputaran Jakarta Pusat, Jakarta Barat yang nggak terlalu barat, dan Jakarta Selatan yang nggak terlalu selatan. Gini nih akhir rumah di Barat perbatasan Pusat dan Selatan. Bingung sendiri alasannya jika di Barat banget atau Selatan banget akibatnya jauh.

Tempat pertama yang dikunjungi yaitu Lovely Sunshine di Jalan Danau Poso, Bendungan Hilir. Cuma saya nggak sreg sama segala sesuatunya hingga mau nangis alasannya Lovely Sunshine ini deket banget dari rumah dan kantor. Strategis banget. Cuma ya berdasarkan saya kelebihannya cuma strategis aja.

Lengkapnya nanti saya tulis di blogpost terpisah ya! Seminggu ini tiap makan siang saya dan JG akan keluar muter untuk survey daycare Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Tiap abis survey akan saya bikin review-nya sekalian agar dapat kasih gosip juga buat buibu yang mungkin mau cari daycare buat anaknya.

Saya tetep nggak akan info di mana daycare Bebe jadi yang mau tau boleh email atau DM saya di Instagram ya. Agak kurang nyaman jika harus sebut nama daycare Bebe di daerah umum gini. Nanti jika udah pindah sih saya akan review lengkap daycare yang sekarang, yang jadi nggak disebut yaitu daycare yang gres hehehe. :)

(Bebe sudah akan pindah jadi ini review daycare Bebe yang bikin saya galau. Bebe di sini 3 tahun pas! Tweede Daycare Benhil)

Kami akan survey ke 4 daycare yang secara jarak masih masuk nalar untuk dikunjungi. Syarat saya sih nggak muluk-muluk (BOHONG) yang penting banget banget bangetnya yaitu kamar anak pria dan wanita terpisah atau minimal bangetnya tiap anak punya kasur sendiri.

Ini penting alasannya saya geli banget mikirin Bebe harus gantian kasur sama anak lain. Kalau anak lainnya lagi sakit gimana?

Karena ternyata banyak daycare yang nggak peduliin hal ini dan anak bebas tidur di kasur yang mana aja. Plis saya nggak dapat bayanginnya pun. Saya maunya Bebe punya kasur sendiri dan itu jadi area langsung ia kaya di daycare yang sekarang, dapat bawa selimut dan boneka sendiri. HUAAA MIKIRIN GINIAN AJA MELLOW.

T________T

Untuk preschool-nya, saya dan JG udah berdamai dengan kenyataan bahwa Bebe nggak akan dapat masuk preschool bahasa Inggris jadi ya kami harus bertahan hanya berbahasa Inggris di rumah meskipun campur-campur alasannya lelah banget sis harus ngomel pake bahasa Inggris sementara anak yang dimarahinnya nggak ngerti lol. Untuk percakapan biasa dan isyarat sederhana sih masih diusahakan sebisa mungkin pakai bahasa Inggris.

Kaprikornus ya yang penting ada kegiatan setara preschool dan Bebe dapat berguru sesuatu yang gres di sekolah barunya nanti. Semoga juga dapat nemu sahabat gres yang bikin Bebe nyaman dan betah di daycare-nya. Aamiin.

Doakan kami semoga cepet ketemu daycare gres yang cocok ya!

(Baca postingan seputar daycare di sini!)

-ast-

Detail ►

Survey Lovely Sunshine Daycare Jakarta

Halo, kali ini saya mau menyebarkan hasil survey Lovely Sunshine Daycare Jakarta Pusat yang terletak di Jalan Danau Poso Benhil. Review di sini bukan berarti saya pernah mencoba menitipkan anak di sini ya, ini hasil survey dan tanya-tanya pada daycare yang bersangkutan. 

Tulisan ini yaitu pecahan dari review dan survey daycare di Jakarta yang saya lakukan dalam rangka cari daycare untuk Bebe, anak saya yang usianya 3 tahun, jadi sudut pandangnya memang toddler bukan bayi. Ini dapat jadi bayangan aja sebab survey satu-satu itu menyita waktu sekali kan. Tapi sebaiknya, ya datenglah ke beberapa daycare untuk survey dulu sebelum tetapkan mau ke daycare yang mana. Baca juga postingan lain tentang daycare di sini. :)


Lovely Sunshine Daycare ini bahwasanya yaitu sasaran utama dari calon preschool dan daycare Bebe. Hanya saja tahun kemudian saya sempat main ke sini dan rasanya kurang sreg. Tapi waktu itu saya nggak terlalu tanya detail sebab memang iseng doang, ahad kemudian saya dan JG balik lagi ke sini untuk tanya se-detail mungkin dan ... tetep kurang sreg hehehe.

Ini detailnya ya. Setiap daycare yang saya review, saya tulis detail yang sama semoga dapat dibandingkan satu sama lain.

🏡 Lokasi

Lovely Sunshine ini terletak di Jalan Danau Poso no 157, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Strategis buat yang kerjanya di tempat Sudirman - Kuningan - Slipi. Daycare di tempat Benhil ini ada beberapa, cuma yang ada preschool-nya hanya Lovely Sunshine ini (cmiiw).

🏡 Kondisi bangunan

Rumah dua lantai, masuk dengan fingerprint jadi nggak perlu ngebel terus nunggu dibukain pintu. Plus point sebab nunggu dibukain pintu sebel hahaha. Di lantai satu untuk kelas dari 3 hingga 6 tahun, lantai dua untuk bayi hingga usia 2 tahun.

Anaknya banyak ada 30-an anak tapi berdasarkan saya sih rumahnya terlalu kecil untuk nampung anak sebanyak itu. Ruang mainnya nggak terlalu besar, nggak ada halaman depan cuma ada halaman belakang kecil tempat tangga-tanggaan sama jungkat-jungkit. Kelasnya juga sempit.

Ini tidak mengecewakan bikin mikir soalnya Bebe anaknya nggak mau diem, di kelas sempit bisa-bisa nggak bebas. :(

🏡 Rasio caregiver dan anak

Di Lovely Sunshine, satu mbak nggak terus menerus pegang anak yang sama. Sistemnya per kelas, jadi tiap kelas ada 1 teacher dan 2 caregiver. Di kelas pre-K untuk usia Bebe, waktu survey ada 6 anak. Masih ok sih ya rasionya. Pas lah.

Caregiver-nya juga dikasih pelatihan berkala. Kata supervisor, jikalau ada komplain baju tertukar pun caregiver pribadi ditegur sebab artinya ia kurang konsentrasi. Wow.

🏡 Jadwal harian

Nah di luar ruangan yang sempit, saya nggak sreg sama jadwalnya yang terlalu banyak di kelas. Ini agenda yang saya tangkep dari pembicaraan sama supervisornya. Baiknya di-confirm ulang ya buibu!

1. Dateng ke daycare pagi-pagi, anak dianter ortu pribadi masuk kelas masing-masing
2. Mandi
3. Masuk kelas lagi, makan di kelas
4. Belajar di kelas, dari jam 9-12
5. Makan siang di kelas lagi
6. Tidur siang di kelas lagi (dipasang kasur)
7. Jam 2-6 (bangun tidur siang hingga dijemput), bergantian pakai ruang main dengan kelas lain. main tidak bersama anak yang lebih besar/lebih kecil jadi main di ruang bermain pakai jadwal.
8. Makan sore di kelas

Kok di kelas terus ya? Nggak bebas main di ruang main sebab harus bergantian dengan anak kelas lain. Kalau anaknya udah gede dan tujuannya sekolah sih sepakat ya, jikalau saya kan justru tujuannya Bebe main, sekolah cuma aksesori aja jikalau beliau mau.

🏡 Mandi

Ini juga kurang sreg sebab mandinya berdua-berdua, katanya (iyes saya nanya) sebab anak banyak sementara kamar mandi cuma satu. Berdua-berdua nggak pemuda cewek sih tapi saya nggak mau huhuhuhu.

Dan anaknya emang banyak banget sih, 30an anak kali ya ada.

🏡 Makan

Makannya standar daycare pada umumnya, 3 kali sehari makan berat, sekali buah dan sekali biskuit. Susu bawa sendiri.

🏡 Tidur

Tidur di kelas menyerupai yang udah saya jelasin di atas. Ternyata banyak daycare dengan konsep kaya gini ya. Saya gres tau, soalnya daycare Bebe kini terpisah banget antara kelas, kamar anak cowok, kamar anak cewek, dan kamar bayi.

🏡 Program preschool

Yes ada agenda preschool dari Pre-K (3-4 tahun), K1 (4-5 tahun), K2 (5-6 tahun). Untuk pre-K masih pakai bahasa Indonesia, untuk K1 dan K2 udah mulai pakai bahasa Inggris. Diajari membaca tapi tidak dipaksa, hanya pengenalan abjad dan angka.

Kami ngobrol dengan teachernya, konsep belajarnya itu disiplin dan konsisten. Karena dengan konsistensi, anak akan disiplin sebab terbiasa.

Tiap ahad ada goals untuk masing-masing anak, jadi nggak memaksakan goals yang sama ke semua anak. Kalau anak nggak nyampe goals-nya maka dikomunikasikan dengan orangtua. Cukup sepakat sih ya berdasarkan aku.

🏡 Mainan

Mainannya tidak mengecewakan banyak, ada ayunan dan perosotan. Ada rumah-rumahan yang gres dicuci juga pas saya survey. Ada kompor dan masak-masakan yang Bebe suka banget! Ada mobil-mobilan polisi yang dapat dinaikin. Sampai kini jikalau liat kendaraan beroda empat polisi Bebe bilang "itu kendaraan beroda empat polisi kaya di sekolah aku". Hahaha.

🏡 Jam buka - tutup - overtime


Buka jam 7, tutup jam 6. Overtime-nya sepakat loh, ada toleransi waktu 15 menit jadi gres dihitung overtime jikalau udah jam 6.15 sore. Pas banget buat saya dan kalian-kalian yang overtime terus hahahaha.

🏡 CCTV

Ada CCTV tapi saya lupa tanya apa dapat diakses orangtua atau nggak. :S

🏡 Toilet training

Ini juga nggak nanya deuh. Lupaaaa.

🏡 Report harian

Report daycare diberikan harian dan report preschool mingguan.

🏡 Punishment

Tidak ada punishment/hukuman. Kalau anak salah sebab misal merebut mainan temannya, berdasarkan supervisornya nggak dieksekusi gimana-gimana, cuma contohnya anak hanya disuruh membisu beberapa menit di karpet merah (karpet karet puzzle itu loh).

🏡 Anak sakit

Nggak nanya masa lupa. Tapi pas keliling-keliling sih nggak ada kamar isolasi ya. Tanya sendiri ya buibuuuu!

🏡 Lain-lain

Ada field trip dan main ke taman cuma jadwalnya kurang jelas. Visit dokter anak dan dokter gigi setiap 3 bulan.

🏡 Biaya

Biaya Daycare dan Preschool Lovely Sunshine: Rp 3,2juta/bulan
Admission fee: Rp 2juta
Biaya preschool (tanpa daycare): Rp 1,95juta/bulan

Murah loh itungannya untuk daycare dan preschool. Worth it lah untuk orangtua yang anaknya udah usia preschool dan masih butuh daycare.

Dan namanya daycare ya, cocok-cocokan banget antara orangtua dan daycare itu sendiri. Temennya Bebe udah dua orang preschool di Lovely Sunshine. Dari segi fee bulanan juga itungannya murah dengan pertimbangan biaya daycare Jakarta Pusat yang lain

Oke itu beliau review daycare pertama. Masih ada dua daycare lain di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan yang akan saya review tapi nantiiii jikalau sempet hahaha.

Selamat cari daycare buibu!

REVIEW TWEEDE DAYCARE BENHIL (DAYCARE BEBE 3 TAHUN TERAKHIR)
REVIEW KIDEE DAYCARE BLOK S/SENOPATI
REVIEW HAPPY TREE HOUSE DAYCARE SETIABUDI

-ast-

Detail ►

Memanjakan Bebe


Akhir-akhir ini Bebe sering nangis. Sering banget. Dari level nangis akting ke pojokan terus sesenggukan tanpa air mata, hingga nangis kejer beneran berurai air mata, ngamuk, hingga ngompol.

Sejak Senin hingga kemarin (saya nulis ini hari Kamis) setiap pagi Bebe nangis. Di kendaraan beroda empat ia meluk saya kenceng banget dan bilang "aku nggak mau ke daycare". Kemudian saya leleh dan anter ia ke daycare, bukannya turun di kantor. Di daycare ia ngamuk.

Terus saya mellow gitu ke JG, Bebe kenapa ya, duka deh jadi praktis nangis blablabla. Saya kemudian jadi baca-baca ihwal perkembangan balita tiga tahun, baca milestone, baca apa yang dirasakan orangtua, baca soal family tradition and discipline, dan gres kerasa digetok. Ternyata masalahnya ada di saya, bukan di Bebe.

Faktor utamanya ialah alasannya ialah saya gres ngerasa sayang banget sama Bebe! After 3 freaking years! Dulu pas Bebe 3 bulan dan pertama kali masuk daycare, orang-orang pada bilang "ya ampun tega amat bayi kecil ditaro di daycare!".

(Baca: Tips Adaptasi di Daycare)

Dan saya nggak paham kenapa harus nggak tega sih? Tega-tega aja ah! Hari pertama ok saya nangis alasannya ialah khawatir, tapi hari-hari berikutnya ya biasa aja. Sayanya nggak drama atau apa. Ya itu tadi, ternyata dulu saya belum ngerasa se-attach itu sama Bebe. Huhu. Maaf ya, Be. :(

Makin gede wow Bebe makin menyenangkan ya, bisa diajak komunikasi, bisa diajak ngobrol, nggak ngebosenin, nggak usah nenenin, segala-gala bisa sendiri. Saya jadi seneng banget deket-deket dia, main sama dia, dan ngobrol sama dia. Baru kerasa wow punya anak itu lucu banget ya!


Saya overwhelming sama semua kemampuan ia dan lupa kalau ia sebenernya masih balita dan harus diperlakukan sebagai balita. Saya lupa kalau saya harus membiarkan Bebe menangis alasannya ialah anak kecil menangis itu wajar! Anak yang di daycare, anak yang sama nanny di rumah, anak yang sama ibunya di rumah, semua niscaya menangis kan kalau memang sedang emosi? Kaprikornus menangis itu tidak apa-apa!

(Saya aja hingga lupa saya pernah nulis 5 Alasan Anak Butuh Menangis)

Saya lupa kalau saya dihentikan memanjakan Bebe. Saya lupa kalau harusnya saya tegas dan tidak memanjakan ia dengan banyak hal yang bahwasanya tidak perlu. Wah bener-bener sih kalau dirunut ke beberapa bulan terakhir, untuk pertama kalinya saya beli macam-macam barang yang terhitung nggak murah untuk Bebe. Dari baju, sepatu, mainan, hingga sepeda.

Padahal semenjak bayi Bebe nggak pernah saya belikan barang apalagi mainan. Beli mainan murah aja nggak! Mainan Bebe dibeliin sama ibu saya atau hadiah dari orang. Saya dulu sama sekali nggak bisa relate sama ibu-ibu yang mengeluh model:

"setelah punya anak apa-apa belanja buat anak dulu, ibunya jadi jarang belanja"

atau

"ke mall niatnya beli tas sendiri, hingga sana malah beliin sepatu anak"

No, saya nggak pernah kaya gitu. Bahkan segala baju lucu aja nggak pernah saya beliin. Saya tetep belanja banyak untuk diri saya sendiri, Bebe secukupnya aja, sepatu aja cuma punya satu, nggak kaya ibu-ibu lain yang sepatu anaknya banyak banget hahaha.

Sampai beberapa bulan kemudian hhhh. Tiba-tiba kok rasanya beli banyak barang banget buat Bebe. Sampai saya berulang kali bilang ke JG, he's so spoiled!

Bilang doang tapi, tiap ia minta apa juga dikasih. Anaknya nggak minta apa-apa juga tiba-tiba saya beliin apa gitu. T_____T Minta barang khususnya ya, cuma kalau nolak mandi, nolak berhenti nonton, gitu-gitu sih masih dimarahin.

Padahal dari dulu ia tantrum banget kan, tapi dulu sayanya tega. Karena dulu ia nangis doang sambil marah-marah, kalau kini nangis pake perhiasan "aku maunya ibu" atau "aku nggak mau mainan, saya mau ibu". Jadinya sayanya leleh deh.

Dan ternyata iya, ngasih barang-barang yang ia mau pribadi seketika itu efeknya tidak mengecewakan kerasa. Bebe yang sebelumnya dapat bangun diatas kaki sendiri dan jarang nangis, kini jadi nangisan banget.

Sedih deh ah. Langsung merasa bersalah alasannya ialah jadi ibu yang kurang tegas dan kalah sama anak.



Akhirnya nemu ini di babycenter and I plead guilty! Yang merah dari babycenter, dan yang ditulis biasa ialah perasaan saya ya. (deuh si eceu, apa-apa pake perasaan lol)

Leaving your child for the day or evening can be tough. Parents often have separation anxiety too – and sometimes a parent's anxiety can fuel it in the child. If your child is having a hard time saying goodbye, you might want to examine your own attitude toward parting. You could be inadvertently causing a problem if:

Ninggalin Bebe kapan pun berat banget rasanya sekarang. Belum hingga pengen resign sih, gres hingga ngerasa bersalah. Dan ya harus diakui ternyata memang attitude saya yang bikin ia jadi manja. Apa aja? SEMUANYA YANG DI BAWAH INI.

🙅 Your goodbyes take more than a minute or two and involve many hugs and kisses, tips, and reminders to the sitter or the child.

Oh tentu saja. Bukan a minute or two lagi, lebih dari 10 menit malah alasannya ialah harusnya saya turun di kantor ini malah ikut dulu menjauh ke daycare Bebe. Sepanjang perjalanan malah peluk-peluk dan cium-cium terus. Tsk. Padahal dulu memandang sebelah mata ibu-ibu yang kurang besar lengan berkuasa kaya gini. *sigh*

🙅 You leave and then return quickly just to check on your child or give one last kiss.

Nggak leave and return quicky sih tapi molor-molorin waktu semoga bisa lebih usang peluk Bebe. Hah saya menyesal sekali. :(

🙅 You ask, "Will you miss me?" or are visibly emotional about leaving.

Saya ngomong "Ibu kangen juga kok sama Bebe kalau Bebe di daycare and blablabla kalimat sayang-sayangan". Yang bikin mellow kok ya diri sendiri ah sebel.

🙅 You provide complicated explanations for why you have to go and make elaborate promises about what you'll do together when you get back.

Iya ini ngaku salah. Mana saya hingga iming-imingi mainan! Kalau tidak nangis nanti ibu pulang bawa mainan baru. Kemudian ia tambah drama "aku nggak mau mainan saya mau ibu" T_________T

🙅 Your child's sharp antennae and busy imagination will pick up on your cues. A cheerful, confident attitude goes a long way in making partings pleasant. Keep in mind that it's healthy for a 3-year-old to spend time in the company of other adults, so by making goodbyes short and sweet, you're doing him a big favor.

Ya, kalimat terakhir akan selalu saya ingat. Bebe lebih kondusif dan lebih produktif di daycare daripada hanya di rumah bersama saya yang nggak bahagia. Saya yang ikut mellow dan duka banget pas naro Bebe di daycare jadi imbas negatif buat Bebenya sendiri. Harus ceria ya nanti lagi! #monolog

source: babycenter 

Tapi ya, jadi orangtua kan pembelajaran seumur hidup nih, ya udah saya terima kesalahan saya dan mulai menata hati serta kebijaksanaan semoga bisa kembali tegas sama Bebe. Dan emang kerasa banget loh Bebe manja kalau ada saya doang!

Kemarin pagi hasilnya nguat-nguatin hati dan tetep turun di kantor. Bebe ngamuk di-strap di car seat. Nggak nyampe 5 menit JG chat katanya Bebe udah berhenti nangis dan pribadi ceria. YAELAAHHH.

Hari-hari sebelumnya berarti emang sayanya yang drama. Pake hukum nganter ke daycare segala, mandiin, nemenin makan, dan ikut duka pas hasilnya saya tetep harus berangkat kerja. Besokannya juga sama, pake cium-ciumin terus selama di mobil, ngamuk deh hasilnya pas turun di daycare.

Lagian saya ngapain drama coba, kalau pun Bebe di rumah seharian sama saya, niscaya ada aja kok yang bikin ia nangis. Yang ada malah makin praktis ngambek alasannya ialah saya manjain. Sementara di daycare ia jarang banget nangis.

Well, itulah dongeng ahad ini dari saya. Semoga bisa diambil hikmahnya ya bahwa bila merasa anak manja maka bercermin dulu pada sikap kita sendiri. :)

Selamat simpulan pekan!

-ast-

Detail ►

Rumitnya Menikah

Saya tidak bicara dari sudut pandang agama ya. Kalau mau dilihat dengan sudut pandang agama apapun silakan, tapi mungkin tidak akan sesuai. :)


Di usia saya sekarang, lingkungan pertemanan saya rata-rata sudah menikah dengan dua anak. Usianya memang sudah masuk untuk punya dua anak. Usia ideal bagi society, belum tentu ideal bagi diri sendiri sebab toh pada kenyataannya jumlah anak tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan rumah tangga.

Ada yang terus menerus bertengkar sebab suami menduakan berkali-kali tapi tetap hamil lagi, made up sex that only made the baby but not the family. Bayinya jadi tapi kekerabatan suami istri tetap berantakan. Anak kedua pula. Istrinya nggak kerja pun.

Ada pula yang memaksa menikah padahal tidak satu prinsip dengan calon suami, dengan alasan berharap suami sanggup membawa ke kehidupan yang lebih baik. Tapi ternyata tidak. Bagaimana sanggup kalau definisi "hidup lebih baik"-nya pun berbeda? Hidup bersama orang yang tidak satu value itu melelahkan. Mau bercerai kok ya suami terlalu sempurna? Punya alasan apa?

Ada yang suaminya mendadak mengubah janji sesudah menikah. Bayangan menikah menyenangkan jadi sebaliknya. Me time jalan-jalan dengan sahabat sesudah semingguan mengurus dua anak tidak diberi izin. Padahal sebelum menikah sudah ditanya bolehkah ini dan itu, jawabannya selalu boleh.

Bahkan hal "sesederhana" melarang istri bekerja saja sanggup jadi urusan panjang kalau istrinya memang tipe yang senang bekerja dan tidak sanggup hanya membisu di rumah. Belum lagi urusan mertua, urusan sekolah anak, urusan suami yang tidak mau bantu pekerjaan rumah tangga, suami yang tidak mau dititipi anak, dan buanyak lagi.

(Baca: Beda Prinsip Lebih Baik Tidak Makara Nikah Loh!)

Kalau mendengar cerita-cerita ketidakbahagiaan dalam janji nikah saya selalu merasa bersalah sebab masih suka ngeluh hahaha. Meski satu prinsip pada segala hal, ya kami juga punya duduk perkara kecil yang padahal sanggup diabaikan. Padahal dibandingkan duduk perkara orang lain sih duh remeh banget. Untuk hal-hal lain yang besar dan melelahkan, so far kami selalu satu suara.

Menghadapi Bebe, maka kami vs Bebe, menghadapi mertua dan keluarga saya maka kami vs mertua dan keluarga. Itu yang menciptakan kehidupan janji nikah saya rasanya tidak serumit orang-orang. Orang-orang yang seumuran saya loh ya, yang gres menikah 5 tahunan.

Karena banyak ya ternyata yang suami selalu membela ibunya dibanding istri. Pokoknya istri harus nurut ibu aja mau ibunya logis apa nggak. "Kamu nurut lah sama ibu aku!" Wow wow. Kenapa nggak kita diskusikan dulu berdua kemudian ambil keputusan BERDUA dan jelaskan ke mertua hasil keputusan BERDUA itu? Kan kau nikahnya sama saya bukan sama ibu kamu?

T________T

Padahal mertua nyuruhnya itu punya anak lagi meski anak pertama masih kecil, semoga capek sekalian katanya. Istri nurut ajalaahhh. Duh sakit kepala mikirinnya. Punya anak ya, mau kini mau nanti ya sama-sama capek. Kan terserah yang mau ngelahirin dong kapan mau beranak lagi. Kalau suami dan ibunya berkomplot nyuruh punya anak sementara yang hamil masih keberatan masa dipaksa? Emang wanita hidup cuma buat jadi medium beranak doang?

T________T

DAN INI TRUE STORY. Semua pola di atas tadi dongeng beneran. Dari orang yang nikah gres 3-5 tahun! Nikah gres 3-5 tahun aja repotnya udah kaya gini wow. Kalau kata Nahla, bayangkan harus hidup kaya gitu 50 tahun lagi.

Karena sering denger curhat model menyerupai ini, maka kini kalau ada orang bilang duh pengen buru-buru nikah, saya dan JG niscaya kompak bilang "Yakinnn? Duh pikir-pikir dulu lah". Dan kami serius soal itu. Kami tidak mau kalian jadi orang berikutnya yang curhat sebab "nikah kok gini amat ya". Hiks.

Pusing ya? Iya nikah itu pusing banget, complicated.

Dan ya, orang-orang menikah ini selalu bicara janji nikah seolah menikah ialah sesuatu yang paling menyenangkan di dunia! Well, no, except you find the perfect one.

Katanya "nikah aja nggak apa-apa, iya sih pusing, tapi enaknya juga banyak" YA ITU KAN ELO. Saya sih nggak berani menyarankan orang menikah hanya sebab janji nikah saya baik-baik saja. Ya saya baik-baik aja, orang lain? Kan belum tentu.

(Baca: Selingkuh dan Pelakor)

Banyak yang baik-baik saja tapi banyak juga yang berusaha terlihat baik-baik saja. Banyak yang tampak mesra di social media padahal menangis setiap malam. Banyak yang di luar sama-sama terus, di rumah mah ya masing-masing aja kaya nggak kenal. BANYAK. Banyak yang menikah socially bukan personally.

Karena semenjak awal, banyak yang pernikahannya itu soal "social acceptance". Ya dalam tanda kutip. Menikah sebab tertekan lingkungan, menikah sebab memang merasa sudah usianya harus menikah, menikah sebab keluarga meminta menikah, menikah sebab ya mau ngapain lagi bro, semua temen udah nikah. Ya nggak tau, ngapain kek, keliling dunia mungkin?

Makanya memilih tujuan menikah itu penting dibicarakan semenjak awal. Oiya kita mau nikah, apa tujuannya?

Misal tujuan menikahnya ialah "melanjutkan keturunan" maka sesudah menikah sasaran berikutnya ialah punya anak dong? Terus ternyata nggak dikasih anak. Jadinya logis kan kalau salah satu minta cerai sebab nggak sanggup punya anak? Atau misal kalau istrinya yang ternyata punya duduk perkara kesehatan, jadi logis dong kalau suami minta poligami? Ya sebab memang tujuan awalnya kan melanjutkan keturunan.

Saran saya sih cari yang tujuannya hidup bersama selamanya deh. Nonton film Test Pack sama calon pasangan, tanya pendapatnya kalau itu terjadi sama kalian. Bukan promosi, tapi film itu ngasih citra banget pasangan yang ideal berdasarkan saya. Menurut saya loh yaaa. :)

Tapi hening dulu, ada kok pasangan yang bener-bener bahagia. Kategori ini pun masih terbagi dua. Hahaha.

Pertama, yang satu prinsip hidup karenanya santai sama segala sesuatu. Perfect match made in heaven. Berantem cuma urusan siapa yang mandi duluan lol. Satu visi misi, nggak saling menuntut suami harusnya gini, istri harusnya gitu!

Kedua, salah satu sebenernya sebel tapi ya udah terima ajalah daripada pusing. Telen aja udah, eh sori, tulus aja udah. Namanya juga nikah ya kan, harus saling ikhlas, harus toleran namanya juga dua kepala jadi satu. :)

(Baca: Mengurangi Intrik Rumah Tangga)

Masalahnya, tulus itu nggak gampang. Nggak semua orang punya stok tulus luber-luber. Ada yang di depan suami dan keluarga tepat banget sebagai istri dan ibu. Tapi di social media ya ampuuunnn, 180 derajat. Terlihat sekali beliau butuh sahabat untuk bicara, butuh sahabat untuk berdiskusi. Nyamber sana-sini, komen sana-sini. Kan kasian jadinya.

Atau yang lebih sanggup menahan diri biasanya hanya curhat pada sahabat. Keluhan-keluhan yang tidak pernah terbayang sebab di luaran sana mereka ialah pasangan tepat yang bikin iri semua orang. Sahabat-sahabatnya ini yang jadi ikut duka huhu kasihan tapi nggak sanggup bantu banyak juga. :(

Inti dari semua ini adalah. Pikir yang banyak sebelum nikah! Tanya pertanyaan-pertanyaan ini ke calon pasangan! Dan wanita harus mandiri, tidak mandiri, tidak mau punya penghasilan tidak apa-apa tapi siapkan storage untuk tulus yang banyak yaaa. :)

Kalau sesudah ini kalian jadi ragu menikah, manis dong. Keraguan akan jadi kehati-hatian, dan menikah ialah keputusan yang harus diambil dengan hati-hati. Percayalah bahwa dengan ragu dan hati-hati, kalian akan menemukan seseorang yang sanggup membuatkan prinsip hidup selamanya. Menjalani hidup tanpa jadi orang lain, tanpa harus selalu bersembunyi di balik kata ikhlas.

Karena sesungguhnya, keikhlasan tidak dibutuhkan lagi di sebuah kekerabatan yang membuatkan prinsip hidup yang sama. Your life would be so much easier. Toleransi niscaya ada, tapi sungguh di hal-hal yang sangat kecil hingga tidak pantas disematkan sebagai sebuah keikhlasan. :)

Untuk kalian yang belum menikah, merasa menikah terlambat, tidak menikah, atau sudah berhenti menikah, hal apapun wacana janji nikah tidak mengurangi sedikit pun dari harga kalian di dunia ini. You're all worth it.

Selamat hari Senin! Baca goresan pena wacana janji nikah lainnya di sini ya! Tentang Nikah

-ast-

Untuk kesayangan aku, @jago_gerlong. Terima kasih untuk jadi kau yang menyerupai aku. Untuk diskusi duduk perkara yang tidak pernah panjang, untuk pertengkaran yang tidak pernah bermalam, untuk jadi tanggapan atas semua kebimbangan. I love you 💛 (TOLONG INI DISCREENCAP DAN BELIIN AKU IPHONE 7 DONG! HAHAHA)

Detail ►

Bebe Dan Bahasa Inggris, 6 Bulan Pertama

Sudah masuk bulan keenam semenjak Bebe pertama kali bilingual dengan bahasa Inggris di rumah. Saya mau update progress-nya nih. Siapa tau bikin semangat buat ibu-ibu yang juga mau coba bilingual di rumah. :)


Update dari mana yaaaa. Lhoh kok resah sendiri hahahaha. Oiya sebelum mulai saya mau bilang dulu jika no, bahasa Inggris saya nggak sebagus itu kok serius. Kalau bahasa Inggris saya anggun banget kali udah jadi wartawan di Amerika hahahaha (sepertinya praktis lol nurut ngana aja).

Tapi ya kalian-kalian yang millennials saya yakin dapat laahhh bahasa Inggris sehari-hari mah ya. Saya percaya kalian bisaaaa hahahaha. Dan ya, saya kan cuma ngomong sehari-hari sama Bebe mah. Mau ngomong apa juga ya kan.

Saya bikin poin aja ya! Ada 5 poin. Ayo simak baik-baik!

📢 Udah dapat apa?

Sebulan belakangan udah berani ngomong! Itu sih kemajuan yang sangat membanggakan hahaha sebab ada masa-masa beliau nggak mau ngomong sedikitpun. Dia ngerti saya tanya apa, tapi beliau tetap jawab dengan bahasa Indonesia. We've all been there, right? Ngerti sih ngerti tapi takut ngomong.

Dia udah tau anggota tubuh, binatang, warna, kendaraan, apa lagi ya yang basic-basic gitu lah. Bebe juga mulai merangkai kalimat dan ini bikin terharu. Oiya jangan kira pribadi bener ya! Saya kan ngikutin bayi-bayi blogger luar (yang cuma berguru bahasa Inggris aja) umur 2-3 tahun masih begitu aja kok Inggrisnya. Misal "my name Penny" bukan "my name is Penny" gitu.

Sekarang beliau kasih sesuatu ke saya dan bilang "is for you" (this is for you), jika nunjuk sesuatu dapat bilang "this one, this one, this, aaaannnnd this!", dapat nanya "where the other?", dapat bilang jika mau sesuatu "i want this", "i want sleep" pokonya i want i want aja nggak pake to hahaha. Bisa bilang "aylaik!" dan "so yummy!". Apa lagi ya. Bisa menggabungkan warna dan benda "black dog" "red firetruck" dll. Bisa nyanyi Twinkle Twinkle dengan pronunciation yang bener dan nggak ngarang lol.

Udah tidak mengecewakan banget lah, komunikasi sehari-hari tidak terhambat sama sekali. Dan cara ngomongnya itu ... LUCU BANGET SUMPAH HAHAHAHAHA #shamelessmom

📢 Metodenya apa?

Awalnya saya ngomong dua bahasa sekaligus tapi itu capek banget huuuu. Nggak kuat. Capek lah sebab ngomongnya jadi ngeluarin energi dua kali lebih banyak *anaknya itungan lol*. Tapi itu efektif banget loh kayanya. Soalnya Bebe jadi nggak nanya.

Kaprikornus saya bener-bener "Are you hungry? Kamu lapar?" atau "No you can't do that Xylo, nggak boleh begitu Xylo" BAYANGIN AJA CAPEKNYA.

Terus saya nyerah di bulan pertama hahahahahaha.

Akhirnya ya udah bodo amat, jika lagi males ya full Indonesia, jika lagi on banget ya full Inggris. Cuma sebab bahasa Indonesia beliau udah lancar banget beliau kesannya nanya jika ada kata yang beliau nggak ngerti. Misal saya bilang "don't throw it!", Bebe tidak tahu throw itu apa terus beliau nanya "throw apa tuh?" Saya jawab dan beliau biasanya pribadi coba pake "throw ajalah!" HAHAHAHA

Nah jadi kayanya emang lebih praktis mengajarkan bahasa kedua sesudah anak sangat lancar bahasa pertama. Kaprikornus komunikasi dapat pakai dua bahasa. Cuma ya ingat, sebaiknya mulai diajarkan bahasa kedua sebelum usianya 6 tahun ya!

Alasannya ada di postingan yang ini: Mengajarkan Bahasa Inggris pada Balita

Banyak juga yang memang membagi orangtua kan, ibunya full Inggris, ayahnya full Indonesia semenjak anak masih bayi. Nanti otomatis anak akan dapat keduanya asal konsisten. Nah jika ini saya males sebab saya sendiri pusing jika ngobrol bertiga hahaha pengen nyautin pake bahasa Indonesia juga dong kesannya sebab Bebe dan JG seru ngobrol pake bahasa Indonesia.

Ya pada dasarnya sayanya kurang nyaman lah hahaha *ALASAN!*

Nonton juga belum terlalu ngaruh ya. Katanya banyak anak yang andal bahasa Inggris sebab seharian nonton Disney Channel, Bebe nonton sih tapi kayanya nggak ngaruh banyak. Kaprikornus ya beda-beda, harus dicoba, jangan jadi anak dikasih nonton terus hanya demi beliau dapat bahasa Inggris tapi kita nggak coba metode lain hehehe.

Saya coba juga dengan buku dongeng bahasa Inggris sih. Lumayan ngaruh sebab jika ada kata yang beliau nggak ngerti, beliau stop kita dongeng dan nanya. Kaprikornus pada dasarnya interaksi ya! IYAAA.

📢 Reaksi Bebe gimana?

Awalnya marah. Kalau saya ngomong pake bahasa Inggris beliau teriak "NGGAK MAU!" nggak mau jawab maksudnya. Dia agak nggak terima gitu kenapa tiba-tiba ibu ngomong banyak tapi beliau nggak ngerti. Tapi ya nggak usah ditanggepin amat sih, harus ngotot aja kitanya.

Lama-lama beliau mulai jawab meski pakai bahasa Indonesia, mulai berani tanya kata yang nggak beliau ngerti, dan mulai berani ngomong.

Terus yang paling ngaruhnya banget sih ketemu anak orang yang ngomongnya bahasa Inggris juga. Kaprikornus beliau nggak ngerasa absurd sendiri. Dia merasa itu bahasa yang umum buat anak-anak. Setelah itu naturally beliau nggak murka lagi dan mulai terbiasa.

📢 Susah nggak sih?

Apapun yang perlu dilakukan dengan konsisten dan disiplin kan emang susah ya. Sekarang saya batasi aja dengan ngomong baik dalam bahasa Inggris, menegur yang perlu klarifikasi saya pakai bahasa Indonesia.

Bukan apa-apa, sebel tau panjang lebar nyeramahin anak terus anaknya nggak ngerti hahahaha.

Kaprikornus dibilang susah sih nggak susah ya, dibilang praktis juga ya nggak praktis sebab butuh niat kuat. Niat Bebe dapat bahasa Inggris semenjak bayi aja cukup sih sebab ya bawah umur lain pada dapat masa Bebe nggak. Lagian effortnya kan cuma dari orangtuanya aja, nggak perlu les atau apa. Kaprikornus niatkan!

📢 Apa nggak takut beliau lupa bahasa Indonesia?

Nggak lah, lingkungan beliau masih lebih banyak didominasi bahasa Indonesia kok, saya yakin beliau nggak akan lupa. Ngomong campur-campur sih iya banget dan itu masuk akal sebab anak masih berguru perihal code switching, bagaimana melatih diri biar dapat bicara full satu bahasa.

Good news-nya, jika sudah hingga code switching ya artinya anak sudah punya dua bahasa di otaknya. Senang ya!

Dan saya memang nggak pengen beliau cuma dapat bahasa Inggris doang sih makanya tetep nekenin bahasa Indonesia juga. Kasian nanti jika sekolahnya ternyata bahasa Indonesia takutnya pusing. Pokoknya sebelum urusan sekolah dimulai, Bebe harus lancar dulu kedua bahasa itu. Masuknya ke sekolah berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia liat uangnya nanti hahahahaha.

*

Oiya, untuk penyemangat, saya nonton videonya mbak Yonna Kairupan. Anaknya empat dan semuanya lancar bahasa Inggris dari kecil sebab di rumah bilingual. No, suaminya nggak bule dan anak-anaknya nggak di sekolah internasional. Karena konsisten aja dari kecil di rumah pakainya dua bahasa. Masa saya yang anak satu nggak sanggup?! #kompetitif

Nonton aja deh yaaa biar lebih jelas. Ada juga satu video lagi dengan bawah umur sebagai bintang tamu dan ditanya gimana perasaan mereka dapat bahasa Inggris semenjak kecil. Cari sendiri di channelnya hahahah.


Oke deh segitu aja dari saya. Nanti diupdate lagi jika udah ada progress yaaa!

See you when I see you!

-ast-

Detail ►